Menu

Mode Gelap
Kapolres Samosir Tak Berdaya Bersihkan Aktifitas Perjudian dari Kota Wisata, Terbentur Oknum Berambut Cepak Status Tahanan Rumah Disorot, Kasus Nuriana Sinurat Kembali Dipertanyakan Presensi Ada, Tugas Dipertanyakan di RSUD Hadrianus Sinaga Eks Gudang Pengoplos LPG yang Pernah Digerebek Tim Gabungan BAIS Diduga Beralih Jadi Gudang Solar Subsidi Ilegal “Paripurna DPRD Samosir Mandek, Kursi Kosong Gagalkan Pembahasan APBD dan Ranperda Sampah” Dari Branding sampai Quality Control: Yang Sering Terlewat soal Seragam Perusahaan Rakerhut Situmorang Tantang Kepastian Hukum Dugaan Penyimpangan Samosir: Proses atau Hentikan!

Pemerintah

Dipelukan Ibu, Azka Melawan Sindrom Down: Harapan “Azka Tak Menyerah”

badge-check


					Dipelukan Ibu, Azka Melawan Sindrom Down: Harapan “Azka Tak Menyerah” Perbesar

Bedahkasus.com, Bireuen- Disebuah rumah sederhana di Gampong Keude Tambue, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, tangisan kecil seorang anak bernama Azka Al Mubarak nyaris tak pernah berhenti. Bocah mungil yang baru berusia 1 tahun 10 bulan itu, setiap hari berjuang melawan penyakit yang tak dipilihnya sejak lahir—sindrom Down.

Azka adalah anak ketiga dari pasangan Azahari dan Fitri Ani. Ketika awak media Bedah kasus mengunjungi rumah mereka pada Rabu, 21 Mei 2025, sang ibu tampak memeluk erat buah hatinya yang terbaring lemah. Sorot matanya penuh harap dan doa—agar ada secercah bantuan untuk kesembuhan anaknya.

“Sejak usia lima bulan, kami sudah curiga ada yang tidak biasa pada tubuh Azka,” tutur Fitri lirih. “Kami bawa ke Puskesmas Simpang Mamplam, lalu dirujuk ke RS Telaga Bunda karena alat terbatas. Dari sana, dokter anak menyatakan Azka menderita sindrom Down dan harus dirujuk ke RS Zainoel Abidin Banda Aceh untuk operasi.”

Namun tak semua keluarga mampu membeli kesempatan untuk sembuh. Biaya operasi yang sangat besar membuat Fitri terpaksa mengubur keinginan melihat anaknya pulih sepenuhnya.

“Kami hanya orang kecil, makan pun pas-pasan. Saya terpaksa memilih rawat jalan saja. Tapi kondisi Azka semakin memburuk.  dia makin lemah,” ucap Fitri sambil menahan tangis. “Kami sudah lakukan segalanya untuk anak kami.”

Hingga hari ini, Azka hanya mampu mendapatkan perawatan seadanya di Puskesmas. Sementara harapan untuk operasi yang bisa menyelamatkan hidupnya semakin jauh dari genggaman.

Fitri memohon dengan sepenuh hati kepada pemerintah Kabupaten Bireuen, khususnya Bapak Bupati H. Muklis, untuk hadir membantu meringankan beban pengobatan Azka. Ia tahu mungkin tak semua bisa dibantu, tapi sedikit uluran tangan akan sangat berarti.

“Saya tidak minta banyak, saya hanya ingin anak saya punya kesempatan untuk hidup lebih baik… untuk sembuh. Saya mohon, tolong lihat anak kami,” ujarnya dengan suara bergetar.

Kehadiran tim LPBK Provinsi Aceh ke rumah Fitri memberi sedikit harapan. Mereka datang membawa bantuan berupa kacang hijau, telur, dan dana kecil untuk membeli obat. Tapi kebutuhan Azka jauh melebihi itu.

Turut hadir pula sejumlah tokoh dan perwakilan instansi seperti Kepala UPTD KB Kecamatan Simpang Mamplam Yulia SKM, Kepala Puskesmas Suriyani SKM, Sekcam Simpang Mamplam Bukhari S.Sos, Keuchik Keude Tambue Muhammad, Babinsa KK desa.

Namun semua pihak tahu, ini belum cukup. Azka butuh perhatian lebih. Ia butuh dukungan nyata dari pemerintah, dari hati yang peduli.

( Chan )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Presensi Ada, Tugas Dipertanyakan di RSUD Hadrianus Sinaga

29 Juli 2026 - 14:35 WIB

Satgas Pangan Polri Perkuat Swasembada Bawang Putih, Lahan Tanam di Sembalun Capai 534 Hektare

28 Juli 2026 - 08:02 WIB

Catar Kalteng Catat Jarak Lari Tertinggi pada Seleksi Tingkat Pusat Akpol 2026

28 Juli 2026 - 07:51 WIB

Seskab Teddy Spill Deretan Event Besar di Indonesia, Mulai dari Konser Musisi Dunia hingga MotoGP Mandalika

27 Juli 2026 - 14:13 WIB

Hotman Paris Menuai Kecaman Kalangan Pers DI Karenakan Celotehan nya Di Nilai Merendahkan Martabat Wartawan

20 Juli 2026 - 10:04 WIB

Trending di Pemerintah