Bedahkasus.com, Bireuen- Disebuah rumah sederhana di Gampong Keude Tambue, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, tangisan kecil seorang anak bernama Azka Al Mubarak nyaris tak pernah berhenti. Bocah mungil yang baru berusia 1 tahun 10 bulan itu, setiap hari berjuang melawan penyakit yang tak dipilihnya sejak lahir—sindrom Down.
Azka adalah anak ketiga dari pasangan Azahari dan Fitri Ani. Ketika awak media Bedah kasus mengunjungi rumah mereka pada Rabu, 21 Mei 2025, sang ibu tampak memeluk erat buah hatinya yang terbaring lemah. Sorot matanya penuh harap dan doa—agar ada secercah bantuan untuk kesembuhan anaknya.
“Sejak usia lima bulan, kami sudah curiga ada yang tidak biasa pada tubuh Azka,” tutur Fitri lirih. “Kami bawa ke Puskesmas Simpang Mamplam, lalu dirujuk ke RS Telaga Bunda karena alat terbatas. Dari sana, dokter anak menyatakan Azka menderita sindrom Down dan harus dirujuk ke RS Zainoel Abidin Banda Aceh untuk operasi.”
Namun tak semua keluarga mampu membeli kesempatan untuk sembuh. Biaya operasi yang sangat besar membuat Fitri terpaksa mengubur keinginan melihat anaknya pulih sepenuhnya.
“Kami hanya orang kecil, makan pun pas-pasan. Saya terpaksa memilih rawat jalan saja. Tapi kondisi Azka semakin memburuk. dia makin lemah,” ucap Fitri sambil menahan tangis. “Kami sudah lakukan segalanya untuk anak kami.”
Hingga hari ini, Azka hanya mampu mendapatkan perawatan seadanya di Puskesmas. Sementara harapan untuk operasi yang bisa menyelamatkan hidupnya semakin jauh dari genggaman.
Fitri memohon dengan sepenuh hati kepada pemerintah Kabupaten Bireuen, khususnya Bapak Bupati H. Muklis, untuk hadir membantu meringankan beban pengobatan Azka. Ia tahu mungkin tak semua bisa dibantu, tapi sedikit uluran tangan akan sangat berarti.
“Saya tidak minta banyak, saya hanya ingin anak saya punya kesempatan untuk hidup lebih baik… untuk sembuh. Saya mohon, tolong lihat anak kami,” ujarnya dengan suara bergetar.
Kehadiran tim LPBK Provinsi Aceh ke rumah Fitri memberi sedikit harapan. Mereka datang membawa bantuan berupa kacang hijau, telur, dan dana kecil untuk membeli obat. Tapi kebutuhan Azka jauh melebihi itu.
Turut hadir pula sejumlah tokoh dan perwakilan instansi seperti Kepala UPTD KB Kecamatan Simpang Mamplam Yulia SKM, Kepala Puskesmas Suriyani SKM, Sekcam Simpang Mamplam Bukhari S.Sos, Keuchik Keude Tambue Muhammad, Babinsa KK desa.
Namun semua pihak tahu, ini belum cukup. Azka butuh perhatian lebih. Ia butuh dukungan nyata dari pemerintah, dari hati yang peduli.
( Chan )











