Bedahkasus.com, Samosir-Kapolres Samosir AKBP Rina Frillya, S.I.K menggelar kegiatan Coffee Morning bersama puluhan jurnalis di Topi Tao Coffee Shop, Desa Pardomuan I, Kecamatan Pangururan, Sabtu (23/8/2025) pagi.
Acara yang dikemas hangat ini mengangkat tema “Sinergitas Polri dengan Jurnalis Demi Mewujudkan Harkamtibmas Kabupaten Samosir untuk Pembangunan yang Unggul, Inklusif, dan Berkelanjutan Menuju Indonesia Maju.”
Turut hadir Wakapolres Samosir Kompol Briston AM Napitupulu, S.T., S.I.K, para Pejabat Utama (PJU) Polres Samosir, serta jurnalis dari media cetak, online, dan televisi.
Dalam sambutannya, Kapolres menyampaikan apresiasi kepada insan pers dan menekankan pentingnya kemitraan Polres dengan jurnalis.
“Kami memandang komunikasi yang baik ini antara Polres Samosir dengan jurnalis sangat penting sebagai jembatan informasi yang objektif, akurat, dan konstruktif.
Jika ada informasi terkait tindak pidana atau hal mencurigakan, silakan koordinasi dengan Kasat Reskrim atau personel Polres Samosir, atau langsung hubungi 110,” ujar Kapolres.
Kontradiksi: Tema Besar, Kasus Mandek
Meski mengusung tema besar soal sinergitas, publik justru menyoroti kontradiksi antara pesan Kapolres dengan realitas di lapangan,Sejumlah laporan masyarakat hingga kini dinilai belum menunjukkan kejelasan penanganan.
Beberapa kasus yang masih menggantung di antaranya:
– Kasus galian C di Kecamatan Simanindo yang telah viral dalam dunia pemberitaan mau pun media sosial.
– Dugaan pencemaran nama baik oleh seorang pemuda berinisial Siadari asal Desa Unjur, Kecamatan Simanindo, yang menghina marga Silalahi dan Sialoho melalui media sosial.
– Kasus penemuan mayat di Desa Aek Nauli, Kecamatan Pangururan.
– Laporan dr. Bilmar Sidabutar terkait dugaan fitnah dan pencemaran nama baik yang hingga kini belum ada titik terang.
Alih-alih menjadi simbol sinergitas, kondisi ini justru menimbulkan pertanyaan publik: sejauh mana keseriusan Polres Samosir dalam menindak lanjuti laporan masyarakat?
Akses Informasi: Antara Harapan dan Kenyataan
Selain mandeknya sejumlah kasus, akses informasi dari Polres Samosir juga menuai kritik.
Kasat Reskrim Polres Samosir yang semestinya menjadi garda terdepan komunikasi kasus justru dinilai sulit ditemui ataupun dimintai keterangan perkembangan penyidikan.
Hal ini dianggap kontraproduktif dengan seruan Kapolres soal keterbukaan dan koordinasi bersama media.Akibatnya, kepercayaan publik terhadap kinerja Polres Samosir dipertaruhkan.
Publik Menunggu Konsistensi
Acara Coffee Morning ini memang menjadi ruang silaturahmi antara kepolisian dan jurnalis.
Namun, tanpa konsistensi dalam penegakan hukum dan keterbukaan informasi, sinergitas yang digaungkan hanya berpotensi menjadi jargon semata.
Masyarakat Samosir kini menunggu bukti nyata: apakah Polres benar-benar serius menegakkan hukum secara profesional dan transparan, atau sekadar membangun citra lewat pertemuan seremonial.
(Tim).











